Sunday, August 30, 2009

Layanan Reservasi Kereta Api Eksekutif Yang Tidak (Belum) Pernah Memuaskan...

Berikut ini adalah komentar dari rekan anggota milis.

Kelemahan PT KA (dari jaman dulu) dalam soal reservasi ialah :

1/ Kereta tidak pernah dibuat standard (berlaku rangkaian standard hanya pada saat baru keluar dari pabriknya yaitu INKA, setelah waktunya PA semua kembali acak-acakan), banyak variasi dan improvisasi, terutama soal kursi baris 13 dan baris 1 (exe), atau baris 1 dan 16 (kelas Bisnis)

2/ Tidak pernah bisa menebak secara pasti konfigurasi kereta yg akan dipakai pada hari H oleh PUK maupun komputer karena systemnya tidak mendukung. Misalnya rangkaian harus selalu standard dan khusus, bukan sering tukar pakai alias gado2 alias sak dapatnya kereta, langsung jalan. Hal ini akan sangat terasa jika pada momen liburan panjang, seperti Lebaran.

3/ Pada hari H nya PUK tidak (mau) mengirim laporan konfigurasi kereta ke sistem reservasi pada hari H itu, sehingga penjualan hari H pun gak jaminan nomor "ajaib" ini bakal cocok dengan komputer, karena (sekali lagi) systemnya tidak mendukung untuk pelaporan aktual.


Jadi enaknya bagaimana ?

1) Kursi "ajaib" ini JANGAN DIJUAL lewat Reservasi, yg dijual nomor tengah baris 2 sampai 12, atau kalau kelas Bisnis baris 3 sampai 14 (karena baris 2 dan 15, selalu ada 2+2 kursi gak bisa dibalik posisinya untuk duduk dengan nyaman, alias leg room-nya sempit)

2) Kursi "ajaib" ini dijual langsung pada hari H, setelah dikonfirmasi oleh PUK nomor keretanya

3) Tiap kereta diberi Bar Code di dinding dalamnya, PUK dilengkapi bar code scanner, jadi sambil jalan meng-inspeksi dari kereta ke kereta, sekalian scan dan lalu dicolok ke computer reservasi untuk download data, untuk penjualan langsung hari H. Sekedar pembanding yg namanya Courier (seperti DHL, FedEx) tinggal scan sticker barcode untuk mencatat kota asal dan kota tujuan gak usah nulis2 tukang sortirnya. Mau gak PT KA memanfaatkan teknologi barcode, paling per stasiun besar cuma perlu satu-dua alat ini. Kalau masih pakai nulis2, rasanya pada males atau malah salah kutip nantinya.


Gimana PT KA, mau gak?



Susanto, keretapi@yahoogroups.com

Continue reading Layanan Reservasi Kereta Api Eksekutif Yang Tidak (Belum) Pernah Memuaskan......

Friday, August 7, 2009

Padang, Last Story

Nikmatnya naik kereta api dari stasiun Padang hingga stasiun Pariaman adalah pada saat kita telah sampai di stasiun ujungnya, yaitu Pariaman. Entah harus berapa kali saya katakan betapa indahnya ibukota propinsi Sumatra Barat ini. Cukup terkejut memang, ketika kami turun dari kereta api tak menyangka ternyata kita telah berada pada posisi stasiun yang sangat berdekatan dengan pantai yang juga merupakan bagian dari obyek wisata di Sumatra Barat. Dengan jarak yang hanya cukup ditempuh dengan beberapa langkah saja dari stasiun Pariaman kita sudah bisa bermain di air laut. Yup, Pantai Gandoriah namanya. Pagi yang cerah dengan memandang birunya air laut dan langit di atasnya membuat mata menjadi lebih segar.

Kota Padang memang memberikan nuansa yang indah tak hanya mulai dari atas pesawat pada saat kita akan mendarat di Bandara Minangkabau dimana kita dapat melihat garis pantai dan bukit barisan di bawahnya, namun setelah sampai ternyata cukup banyak juga obyek wisata di propinsi Sumatra Barat ini. Salah satu ciri yang paling khas dari kota Padang ini adalah apabila kita melihat suatu bangunan disana, maka akan terdapat atap rumah gadang pada bagian dari pintu masuk bangunan tersebut. Untuk bangunan yang dimiliki oleh instansi pemerintah hampir dipastikan bagian depannya terdapat atap rumah gadang ini.

Jalur rel kereta api yang bersebelahan dengan jalan raya di kota Padang juga menambah keindahan tersendiri bagi yang suka menikmati proses perjalanan dengan kereta api, walaupun kereta api di Padang tidak dapat berjalan dengan kecepatan tinggi. Agak lambatnya perjalanan kereta api disana dibandingkan dengan menggunakan transportasi darat lainnya sebenarnya bisa juga disebabkan beberapa hal seperti, kondisi trek / rel yang masih belum memadai seperti di pulau Jawa, banyaknya pintu perlintasan yang tidak terjaga, lokomotif yang kondisi mesinnya terbatas dan lain sebagainya. Namun disisi lain kondisi yang saat ini ada sebenarnya adalah merupakan suatu kemajuan dari perkereta-apian di wilayah Sumatra Barat, setelah sempat beberapa tahun mengalami kevakuman.


Waspadalah

Ada suatu hal yang sangat perlu diperhatikan jika kita naik kereta api di Padang. Jika dilihat pada foto jembatan disamping kanan sepertinya bentuk pada rangka dinding jembatan ini biasa saja seperti pada jembatan kereta api pada umumnya.Tetapi sebenarnya jika kita mengukur lebar dinding jembatan tersebut dari dalam kereta, sungguh amatlah tipis jarak antara dinding jembatan dengan bodi kereta.







Jika ingin membuktikan betapa tipisnya jarak dinding jembatan kereta api dengan bodi kereta itu sendiri sebenarnya bisa dilihat dari foto disamping (jangan lihat lokasinya lagi dimana). Silahkan perhatikan pada eblek Semboyan 21 berwarna merah tersebut. Awalnya saya mengira eblek merah ini terlipat ke arah bodi kereta diakibatkan dari ulah orang yang hanya sekedar iseng atau memang mempunyai sifat vandalisme. Karena posisi eblek Semboyan 21 yang ada pada umumnya harus mudah terlihat oleh masinis pada siang hari, karena itu harus mempunyai sudut 90 derajat terhadap bodi kereta. Namun pada jalur kereta api ini ternyata eblek merah yang menempel pada dinding kereta sengaja dilipat ke dalam oleh petugas agar tidak menyerempet dan mengenai jembatan yang akan dilewati oleh kereta api, bahkan mejadi sejajar dengan lampu Semboyan 21 di atasnya.

Hal ini terbukti ketika kereta api sedang melintasi jembatan yang mempunyai rangka dinding besi. Dapat dipastikan model dari seluruh kondisi pada dinding jembatan kereta api di wilayah Sumatra Barat seperti ini. Karena itu BERHATI-HATILAH… Tulisan yang tertera di dalam setiap kereta berpengangkut penumpang yang berbunyi “DILARANG KERAS MENGELUARKAN ANGGOTA BADAN” sudah sepatutnya harus benar-benar dipatuhi jika anda tidak ingin terluka dalam perjalanan ini. Kebiasaan melongok dari dalam kereta tampaknya harus ekstra hati-hati jika naik kereta api disini. Foto ini sudah menunjukkan betapa sangat tipisnya jarak antara dinding jembatan dengan bodi kereta, sehingga eblek merah dengan posisi yang normalpun dipastikan akan bersinggungan dengan dinding jembatan kereta api.

Di lain sisi akan berbeda lagi jika kita bepergian dengan menggunakan kereta api wisata. Khusus untuk bodi kereta wisata di Padang bentuknya memang agak sedikit berbeda dengan bodi kereta pada umumnya (buatan INKA) seperti di pulau Jawa, yaitu terletak pada fisik dari kedua jenis kereta tersebut dimana lebar antara keduanya memiliki perbedaan. Untuk kereta wisata memiliki lebar yang lebih kecil dibandingkan dengan kereta yang ada pada umumnya atau dengan kata lain bodinya lebih ramping. Sehingga pada saat kereta api wisata ini melewati jembatan yang ada rangka dinding besinya, maka akan mempunyai jarak / celah yang lebih longgar daripada kereta yang lainnya. Namun perlu diingat bahwa tulisan “Dilarang Keras Mengeluarkan Anggota Badan “ tetap harus diperhatikan.

Jika dilihat dari kedua foto terakhir di atas (dengan asumsi menggunakan jenis lokomotif dengan lebar yang relatif sama), maka akan terlihat jelas seberapa beda lebar sebenarnya bodi kereta wisata dengan kereta yang ada pada umumnya. Hal ini bisa diperhatikan dari posisi antara ujung dek lokomotif dengan ujung kereta atau tepatnya pada batas antara sambungan lokomotif dengan rangkaian kereta, dengan cara membandingkan lebar kedua jenis kereta tersebut terhadap lebarnya dek pada lokomotif.


Silahkan diperhatikan. Selamat mengamat-ngamati….. ;) ;)

Continue reading Padang, Last Story...

Sunday, August 2, 2009

Padang Story, Part-3

Padang – Pariaman

Setelah memasuki hari kedua di Padang, di kala masih pagi buta kami sudah bersiap untuk berangkat melanjutkan perjalanan berikutnya, yaitu menaiki KA Sibinuang kelas ekonomi dengan jalur Padang – Pariaman (PP). Pukul 6 pagi kurang kami telah tiba di stasiun Padang. Matahari yang masih belum terbit membuat suasana sekitar stasiun yang masih agak gelap terasa sejuk dan segar. Mulailah kami mencari posisi masing-masing untuk mendapatkan foto-foto di sekitar stasiun Padang. Kereta api yang seharusnya berangkat tepat pukul 6.00 tampaknya agak sedikit terlambat, sekitar pukul 6.15 barulah Semboyan 40-41 dibunyikan. Kereta api-pun siap melaju perlahan-lahan meninggalkan stasiun Padang dari spur dua sambil membunyikan Semboyan 35-nya.

Stasiun pemberhentian pertama setelah kota Padang adalah stasiun Tabing. Cukup banyak juga penumpang yang naik ke kereta api dari stasiun ini, hal ini mungkin dikarenakan posisi dari stasiun tersebut yang sangat berdekatan dengan jalan utama yang menghubungkan antara bandara Minangkabau dengan kota Padang, sehingga akan memudahkan penumpang untuk melanjutkan perjalanan berikutnya dengan kereta api ke daerah lain ataupun sebaliknya turun dari kereta api bisa langsung naik angkot / bis menuju tempat lainnya. Bahkan sebagian besar dari posisi rel kereta api sepanjang lintas ini bersebelahan dengan jalan raya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar satu jam, KA Sibinuang berhenti sebentar di stasiun Duku. Stasiun ini sepertinya merupakan stasiun terdekat dari bandara Minangkabau. Foto pada bagian sebelah kiri yang dekat dengan jembatan kereta api adalah merupakan fly over yang sedang dalam proses permbangunan. Fly over ini tampaknya dibuat untuk jalan akses langsung dari bandara Minangkabau menuju ke kota Padang.


Pemberhentian kereta api berikutnya adalah stasiun Pasar Usang. Disini penumpang kereta api sepertinya tidak terlihat terlalu banyak. Setelah proses naik-turun penumpang KA Sibinuang langsung berangkat.





Di stasiun Lubuk Alung kereta api berhenti agak lama. Karena ini merupakan stasiun yang tergolong besar, penumpang yang turun-naik di stasiun ini juga cukup banyak. Selain itu Lubuk Alung adalah merupakan stasiun cabang, dimana tampak pada foto disamping terlihat sinyal mekanik yang menandakan semboyan 5 (telah menunjukkan jalur aman) yang mengarahkan kereta api bergerak ke arah kiri menuju Pariaman.
Sementara itu jalur yang sebelah kanan adalah jalur rel kereta api yang akan menuju stasiun Padang Padang. Nuansa perjalanan ke arah ini sebenarnya jauh lebih indah, ada rel bergerigi yang cukup panjang lintasannya karena jalur kereta api tersebut cenderung menanjak dan melintasi Lembah Anai. Namun sampai saat ini masih belum digunakan untuk kereta api reguler. Karena itu Semboyan 7 tetap digunakan untuk jalur yang menuju Padang Panjang ini.

Tak lama kemudian kereta api memasuki emplasemen stasiun Pauhkambar. Stasiun kecil yang sepertinya baru selesai di cat ini terlihat cukup bersih, namun sepi dari penumpang. Jika dilihat dari posisi orang berpijak yang akan naik kereta api, terlihat bahwa dulunya ada rel kereta api di jalur ini, tapi sudah hilang.




Tempat pemberhentian berikutnya sebelum sampai di Pariaman adalah stasiun Kurai Tadji. Pada stasiun ini terlihat cukup ramai dan banyak aktivitas warga di sekitarnya. Ternyata di belakang stasiun ini terdapat pasar tradisional. Banyaknya sampah yang berserakan di sekitar stasiun membuat stasiun ini jadi terlihat kotor. Namun disisi lain hal ini menunjukkan bahwa kegiatan masyarakat di daerah tersebut menjadi lebih hidup. Karena banyak penumpang yang turun di stasiun ini, maka kereta api mulai agak sepi di dalamnya hingga menuju Pariaman.

Akhirnya KA Sibinuang sampai di tujuan akhir yaitu stasiun Pariaman. Tanpa menunggu waktu lama setelah kereta api berhenti, lokomotif yang menarik rangkaian inipun langsung dilangsir untuk kembali ke stasiun Padang. Lokomotif BB30612 ini cukup unik karena terdapat lonceng di bagian depannya yang bisa dibunyikan dari dalam kabin masinis. Namun untuk ukuran tingkat keramaian yang cukup tinggi di sekitar stasiun ini, suara lonceng ini tampaknya tidak terlalu diperhatikan pada saat lokomotif tersebut akan melewati. Maka akhirnya Semboyan 35-pun “bicara”. Sepanjang perjalanan langsir di spur satu ini mulai dari ujung rel, Semboyan 35 tak henti-hentinya dibunyikan karena masih banyak warga yang lalu-lalang di atas rel tanpa menyadari kalau akan ada lokomotif yang mau lewat. Luar biasa suaranya…..

Setelah rangkaian KA Sibinuang siap tersedia pada spur 2, petugas PPKA-pun mengumumkan keberangkatan kereta api ini yang menuju ke Padang. Bantalan rel kereta api yang sebagian telah tertutupi oleh pasir pantai menunjukkan bahwa stasiun ini sangat dekat sekali dengan garis pantai. Cukup berjalan kaki hanya beberapa meter saja kita sudah sampai di pinggiran pantai. Sementara di sisi lain seberang stasiun atau tepatnya dari pintu masuk utama stasiun terdapat jalan raya dan pasar yang sangat ramai dikunjungi masyarakat sekitar. Dan sekitar pukul 8.50 berangkatlah KA Sibinuang menuju Padang.

Kemudian sekitar pukul 8.45 kereta api ini tiba di stasiun percabangan yaitu stasiun Lubuk Alung yang mempunyai empat jalur kereta api yang aktif. Disini KA Sibinuang berhenti lumayan lama (kurang lebih 15 menit) pada jalur empat. Karena selain jumlah penumpang yang turun & naik di stasiun ini cukup banyak, pada stasiun ini akan terjadi momen yang cukup langka. Dimana KA Sibinuang akan bersilang dengan KA Wisata Padang – Pariaman (persilangan kereta api di wilayah Sumatra Barat adalah suatu hal yang sangat jarang terjadi pada saat ini). Dengan sabar kamipun menanti untuk mengabadikan momen ini.

Akhirnya momen yang ditunggu-tunggupun tiba. Kereta Api Wisata Padang – Pariaman datang di stasiun Lubuk Alung tepat pukul 10.00 dengan ditarik oleh lokomotif BB20415 memasuki emplasemen spur tiga. Tak hanya untuk orang yang ingin berwisata, penumpang biasapun ternyata cukup banyak yang menantikan kedatangan kereta api ini untuk ikut dalam perjalanan menuju Pariaman. Setelah bersilang, tanpa menunggu waktu lama lagi KA Sibinuang yang kami naiki pun langsung bersiap untuk berangkat ke Padang.



Pukul 11.15 KA Sibinuang sudah datang kembali di stasiun Padang dan bersiap untuk memasuki spur lurus, atau tepatnya pada jalur dua. Tampak pada foto, berada di jalur paling kiri terdapat rangkaian yang sedang stabling, yaitu gerbong pengangkut batubara dan gerbong semen yang biasanya melintas di daerah Indarung.





Sekian cerita dari jalur kereta api Padang – Pariaman (PP)


Terima kasih.

Continue reading Padang Story, Part-3...