Monday, October 6, 2008

Jangan Matikan Jalur Rel KA Solo-Wonogiri !

Kereta Api. Jess...jess...tuuuut....tuuut... Inilah secuplik adegan masa kecil kita bila melihat kereta api melintas diatas rel. Sepintas memang tidak terlihat istimewa, hanya sebuah kereta api melintas begitu saja di atas rel. Bahkan, terkadang kita kerap disuguhi pemandangan permukiman kumuh dengan tebaran pakaian maupun kasur dijemur di tepi rel kereta.

Akan tetapi, gambaran ini sekaligus sirna ketika anda mencoba naik kereta api dari stasiun Purwosari Solo ke stasiun Wonogiri. Kereta api ini melintas setiap hari di tengah kota Solo, yakni di tepian Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Mayjen Sunaryo hingga masuk ke stasiun Solokota.

Berjalan beriringan dengan kendaran-kendaraan roda empat dan dua, kereta api ini berjalan dengan kecepatan sekitar 30 kilometer per jam. Bila anda beruntung, anda bisa merasakan keperkasaan lokomotif BB30003 berwarna biru muda dengan gambar empat sekawan tokoh pewayangan Jawa, Petruk, Gareng, Semar dan Bagong, yang dikenal dengan Punakawan.

Lokomotif inilah yang pada lima tahun lalu digunakan untuk menarik rangkaian KA wisata Solo-Wonogiri yang diresmikan Gubernur Jateng Mardiyanto. Perjalanan perdana KA wisata tiga gerbong itu dipandu almarhum Sinuhun Paku Buwono XII.

Saat ini, lokomotif BB30003 memang sudah tidak menarik kereta wisata Punakawan. Lokomotif buatan Krupp, Jerman tersebut telah berusia lebih kurang 40 tahun. Meski usianya cukup renta dengan kecepatan jalan maksimal 50 kilometer per jam, lokomotif ini setia mengangkut penumpang dari KA ekonomi Bengawan yang berangkat dari Jakarta.

Setiap hari pukul 08.00-09.00, lokomotif BB30003 itu dengan satu gerbong di belakangnya menunggu menunggu kedatangan penumpang dari KA Bengawan maupun warga Solo yang akan pergi ke Wonogiri. Keluar dari stasiun Purwosari, semboyan 35, bunyi klakson lokomotif akan terdengar oleh pengguna jalan Hasanudin dan Slamet Riyadi.

Bayangkan, bepergian dengan kereta api yang membelah pusat sebuah kota. Dimana lagi bisa ditemui pengalaman dan pemandangan unik semacam ini di Indonesia kalau bukan di Solo ?

Keberadaan jalur rel di tepi Jalan Slamet Riyadi ini merupakan jaringan rel kereta api di Indonesia yang masih aktif digunakan dari dahulu hingga kini. Keunikan lain yang bisa anda dapat bila bepergian dengan kereta Solo-Wonogiri bukan hanya menikmati pemandangan Jalan Slamet Riyadi. Ada sebuah kekhasan lain yang dipancarkan rangkaian kereta ini, sebuah semangat kebersamaan dan ketulusan dari warga sekitar perlintasan rel yang dilewati kereta ini.

Tengok saja ketika anda akan memasuki stasiun Solokota, seorang pria setengah baya akan menyetop sejumlah kendaraan yang akan lewat di perlintasan rel tak berpalang pintu tersebut. Cukup dengan lambaian tangan dan senyum ramah dari masinis maupun asisten masinis kepada pria setengah baya itu, kereta pun melaju dengan tenang. Tanpa perlu mengeluarkan uang receh, kereta pun bisa melenggang dengan leluasa. Suatu potret sosial yang jarang ditemui di sejumlah perempatan jalan di kota metropolitan yang sarat dengan polisi cepe’annya.

Bukan hanya di daerah stasiun Solokota, sepanjang perjalanan menuju Wonogiri, lebih dari belasan perlintasan tak berpalang pintu dilalui kereta ini. Dan tetap saja, ikatan kebersamaan dan kesetiakawanan itu tak pernah putus. Mulai dari tukang tambal ban, pemuda kampung, hingga petani membantu mengamankan perjalanan kereta Solo-Wonogiri.

Keberadaan jalur rel Solo-Wonogiri pun cukup unik dan bermakna. Menurut asisten masinis kereta Solo-Wonogiri Rochmad, yang bertugas waktu itu, jalur ini sekaligus batas pemisah wilayah kekuasaan dua kerajaan yang berpusat di Surakarta, Keraton Mangkunegaran dan Keraton Surakarta.

Keunikan pemandangan kota bersama sentuhan kebersamaan masyarakat Solo tidak bisa dilupakan begitu saja. Apalagi pengalaman melintas melintas di atas sungai Bengawan Solo juga merupakan pengalaman perjalanan yang menyenangkan. Kondisi jembatan besi dengan rel yang masih terawat baik, tidak menimbulkan kecemasan bagi para penumpang kereta ini setiap harinya. Sayangnya, jaringan rel selepas stasiun Sukoharjo hingga stasiun Wonogiri, kondisinya memprihatinkan. Sebagian besar bantalan besi yang tertanam sudah tertutup rata denga rumput dan tanaman liar, bahkan balas (batu kerikil) di antara bantalan pun tak terlihat.

Rute sepanjang 39 kilometer ini masih menggunakan rel jenis R33 yang sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi perkembangan jaringan rel di Indonesia masa kini. Saat ini, jaringan rel utama di lintas pulau Jawa telah menggunakan rel jenis R54. Rel dengan jenis R54 ini memungkinkan kereta penumpang yang ditarik lokomotif diesel semacam CC201, CC203 dan CC204 dapat melaju mulus dengan bobot maksimal 17,5 miliar ton per tahun. Sementara jaringan rel kereta Solo-Wonogiri hanya mampu dilewati rangkaian kereta dengan bobot maksimal sekitar empat miliar ton per tahun. Tak heran, bila jaringan rel ini hanya bisa dilewati lokomotif sejenis BB300 maupun D301.

“Jalur ini sebenarnya lebih bersifat sosial daripada mendatangkan keuntungan. Lihat saja penumpang yang naik per hari rata-rata hanya terisi separuh gerbong, nahkan tak jarang hanya seperempat gerbong saja. Yah, lebih baik jalur rel ini tetap dilewati KA daripada dibiarkan terbengkalai, bisa-bisa nati jadi permukiman penduduk liar”, ujar masinis BB30003 Djoko Moeljo.

Kekhasan rute ini masih dapat anda rasakan selepas stasiun Pasarnguter menuju stasiun Wonogiri, di sebelah kiri rel, tepatnya di daerah Tekaran, anda dapat melihat halte kereta api. Bangunan dari kayu ini dahulu kerap digunakan masyarakat sekitar untuk menunggu kereta api yang melintas ke Wonogiri hingga Baturetno.

Jaringan rel sepanjang 39 kilometer ini bukan hanya bermanfaat bagi warga Wonogiri dan sekitarnya. Jaringan rel KA Solo-Wonogiri sudah sepatutnya menjadi aset PT. KA yang harus dilestarikan dan dipelihara, terkait dengan nilai sosial dan sejarah yang disandangnya.

Sekali lagi, jangan matikan jalur rel KA Solo-Wonogiri !




Tulisan diambil dari:
Kompas edisi Jawa Tengah, 30 Maret 2005.

12 comments:

Panjisakti said...

Setuju Mas! Jangan matikan jalur ini. Malah harusnya dikembangkan, dengan mengganti KA dengan tipe light train dan dapat/boleh mengangkut sepeda!

Tentu dengan syarat daerah tujuan (Wonogiri) dikembangkan secara serius sebagai daerah tujuan penting. Wonogiri dengan hutan jati dan waduknya jika serius dikembangkan dapat menjadi daerah tujuan wisata orang2 kelas menengah dari Yogya dan Solo. Kalau tidak salah, rel dari stasiun wonogiri masih ada lanjutannya hingga tepi waduk bukan? Mengapa ini tidak dikembangkan??

Panjisakti said...

Nyambung lagi. Saya tinggal saat ini di Jerman. Peran masyarakat setempat bagi kelangsungan nasib jalur2 marginal seperti ini sangat penting. Mereka bahkan mau menyokong pendanaan, tentunya kepentingan penyumbang ini perlu dipertimbangkan. kalau saja pihak PT KAI atau Pemda setempat mau mulai bekerja sama untuk membuat proposal yg realistis, saya yakin jalur ini akan menjadi jalur populer. Pasarnya sangat jelas dan potensial. Banyak kok orang2 "kaya" di Solo dan Yogya.

hanafi spoorwegen said...

Betul pak,
sampai saat ini Pemda setempat dengan PT.KA memang sedang mengusahakan untuk menjadikan jalur ini sebagai KA Wisata, yaitu nantinya dengan menggunakan lokomotif uap seperti pada stasiun Ambarawa.
Semoga dapat terwujudkan.

Anonymous said...

iya mas lebih baik ganti aja relnya jadi R42! siapa tahu nanti bisa dilalui CC203

richie said...

Bulan Juni 2009 rencananya KA dengan lokomotif uap akan dioperasikan di jalur ini, saya baca di koran Bisnis Indonesia, KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik) juga akan dioperasikan, jika perbaikan penggantian seluruh rel dan bantalan selesai, perbaikan dan penggantian rel Solo-Wonogiri segera dilakukan bulan Mei-Juni 2009 ini. Tunggu saja semoga benar2 terealisasi dan dapat dinikmati.

ahmadyazidrk said...

HIDUP KERETA WONOGIRI-SOLO !!!!
KAMI WARGA WONOGIRI SELALU MENDUKUNGMU.
TAK ADA DAERAH LAIN YANG MEMILIKI KERETA SEPERTI INI SELAIN DI WONOGIRI.
KERETA YANG UNIK DAN PENUH SEJARAH

wibisono_spancea said...

Saya sangat setuju dengan saudara2....

Saya pernah naik kereta api Solo-Wonogiri ini. Jalur ini satu-satunya jalur penumpang paling unik se-Indonesia yang masih tersisa, karena di bagian manapun di Indonesia anda tidak akan menemukan kereta penumpang yang berjalan di pinggiran jalan raya seperti di Slamet Riyadi Solo tsb. Sebenarnya ada juga di Madiun, yang menuju ke dipo Pertamina. Namun itu hanya dilewati kereta tangki saja.

Yang jelas, Jalur Solo-Wonogiri ini harus dikembangkan menjadi sebuah aset pariwisata yang bakal mendatangkan devisa bagi daerah Solo-Wonogiri dan sekitarnya. Apalagi jika dihubungkan dengan "point of interest" di sepanjang rel tsb seperti di Solo Grand Mall, Persimpangan Benteng Vastenberg, daerah persawahan di Sukoharjo hingga waduk Gajahmungkur di Wonogiri.
Kami sangat berharap PT KAI, pemerintah setempat dan investor benar-benar memperhatikan potensi jalur KA ini.

Matur nuwun

Muhammad Ammar Wibisono
mahasiswa dan railfans dari Jogja

richie said...

Pengerjaan penggantian rel KA Solo-Wonogiri sudah mulai dikerjakan mulai hari ini (20/08/2009). Tahap pertama Purwosari-Sukoharjo. Aspal-aspal yang selama ini menutup bantalan rel sudah mulai dibongkar. Bantalan yang baru menggunakan jenis beton dan ukuran rel R42.

Anonymous said...

Semangat... saya senang dengar hal ini, karna saya enggan naik bus dari jogja ke wonogiri... saya doakan semoga lancar dan terselesaikan sesuai harapan... Terimakasih, salam hangat. WAWAN

Anonymous said...

sayang banget ya klo mengingat negara kita kadang2 tidak dapat melestarikan peninggalan masa lalu apalagi klo masyarakatnya tidak mendukung. gw ngiri nih klo lihat di negara lain masih punya peninggalan masa lalu yang terawat dengan baik....

“Kelompok Pecinta Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan” said...

Seandainya dengan penataan di sepanjang rel yang dilalui dengan pelan itu..
penumpang akan melihat pemadangan lebih variatif dan penuh kenangan...
rumput yang tumbuh di sepanjang rel bisa digantikan bunga warna warni...
penyiraman hanya pada musim kemarau dengan kereta yang melintasi dengan dilengkapi peralatan sprayer khusus...
di dalam kereta tersedia berbagai fasilitas tambahan, bisa berupa leaflet wisata, atau katalog kuliner, atau bahkan informasi seputar kereta api sendiri...

mungkin bisa disampaikan kepada walikota solo, Joko Wi,...
beliau pasti mendukung semua kegiatan bagi kemajuan masyarakat merata...

terimakasih...

Bala Arizalu said...

Setuju.... Jangan di matiin.. Karna naik kereta lebih hemat :D