Friday, August 7, 2009

Padang, Last Story

Nikmatnya naik kereta api dari stasiun Padang hingga stasiun Pariaman adalah pada saat kita telah sampai di stasiun ujungnya, yaitu Pariaman. Entah harus berapa kali saya katakan betapa indahnya ibukota propinsi Sumatra Barat ini. Cukup terkejut memang, ketika kami turun dari kereta api tak menyangka ternyata kita telah berada pada posisi stasiun yang sangat berdekatan dengan pantai yang juga merupakan bagian dari obyek wisata di Sumatra Barat. Dengan jarak yang hanya cukup ditempuh dengan beberapa langkah saja dari stasiun Pariaman kita sudah bisa bermain di air laut. Yup, Pantai Gandoriah namanya. Pagi yang cerah dengan memandang birunya air laut dan langit di atasnya membuat mata menjadi lebih segar.

Kota Padang memang memberikan nuansa yang indah tak hanya mulai dari atas pesawat pada saat kita akan mendarat di Bandara Minangkabau dimana kita dapat melihat garis pantai dan bukit barisan di bawahnya, namun setelah sampai ternyata cukup banyak juga obyek wisata di propinsi Sumatra Barat ini. Salah satu ciri yang paling khas dari kota Padang ini adalah apabila kita melihat suatu bangunan disana, maka akan terdapat atap rumah gadang pada bagian dari pintu masuk bangunan tersebut. Untuk bangunan yang dimiliki oleh instansi pemerintah hampir dipastikan bagian depannya terdapat atap rumah gadang ini.

Jalur rel kereta api yang bersebelahan dengan jalan raya di kota Padang juga menambah keindahan tersendiri bagi yang suka menikmati proses perjalanan dengan kereta api, walaupun kereta api di Padang tidak dapat berjalan dengan kecepatan tinggi. Agak lambatnya perjalanan kereta api disana dibandingkan dengan menggunakan transportasi darat lainnya sebenarnya bisa juga disebabkan beberapa hal seperti, kondisi trek / rel yang masih belum memadai seperti di pulau Jawa, banyaknya pintu perlintasan yang tidak terjaga, lokomotif yang kondisi mesinnya terbatas dan lain sebagainya. Namun disisi lain kondisi yang saat ini ada sebenarnya adalah merupakan suatu kemajuan dari perkereta-apian di wilayah Sumatra Barat, setelah sempat beberapa tahun mengalami kevakuman.


Waspadalah

Ada suatu hal yang sangat perlu diperhatikan jika kita naik kereta api di Padang. Jika dilihat pada foto jembatan disamping kanan sepertinya bentuk pada rangka dinding jembatan ini biasa saja seperti pada jembatan kereta api pada umumnya.Tetapi sebenarnya jika kita mengukur lebar dinding jembatan tersebut dari dalam kereta, sungguh amatlah tipis jarak antara dinding jembatan dengan bodi kereta.







Jika ingin membuktikan betapa tipisnya jarak dinding jembatan kereta api dengan bodi kereta itu sendiri sebenarnya bisa dilihat dari foto disamping (jangan lihat lokasinya lagi dimana). Silahkan perhatikan pada eblek Semboyan 21 berwarna merah tersebut. Awalnya saya mengira eblek merah ini terlipat ke arah bodi kereta diakibatkan dari ulah orang yang hanya sekedar iseng atau memang mempunyai sifat vandalisme. Karena posisi eblek Semboyan 21 yang ada pada umumnya harus mudah terlihat oleh masinis pada siang hari, karena itu harus mempunyai sudut 90 derajat terhadap bodi kereta. Namun pada jalur kereta api ini ternyata eblek merah yang menempel pada dinding kereta sengaja dilipat ke dalam oleh petugas agar tidak menyerempet dan mengenai jembatan yang akan dilewati oleh kereta api, bahkan mejadi sejajar dengan lampu Semboyan 21 di atasnya.

Hal ini terbukti ketika kereta api sedang melintasi jembatan yang mempunyai rangka dinding besi. Dapat dipastikan model dari seluruh kondisi pada dinding jembatan kereta api di wilayah Sumatra Barat seperti ini. Karena itu BERHATI-HATILAH… Tulisan yang tertera di dalam setiap kereta berpengangkut penumpang yang berbunyi “DILARANG KERAS MENGELUARKAN ANGGOTA BADAN” sudah sepatutnya harus benar-benar dipatuhi jika anda tidak ingin terluka dalam perjalanan ini. Kebiasaan melongok dari dalam kereta tampaknya harus ekstra hati-hati jika naik kereta api disini. Foto ini sudah menunjukkan betapa sangat tipisnya jarak antara dinding jembatan dengan bodi kereta, sehingga eblek merah dengan posisi yang normalpun dipastikan akan bersinggungan dengan dinding jembatan kereta api.

Di lain sisi akan berbeda lagi jika kita bepergian dengan menggunakan kereta api wisata. Khusus untuk bodi kereta wisata di Padang bentuknya memang agak sedikit berbeda dengan bodi kereta pada umumnya (buatan INKA) seperti di pulau Jawa, yaitu terletak pada fisik dari kedua jenis kereta tersebut dimana lebar antara keduanya memiliki perbedaan. Untuk kereta wisata memiliki lebar yang lebih kecil dibandingkan dengan kereta yang ada pada umumnya atau dengan kata lain bodinya lebih ramping. Sehingga pada saat kereta api wisata ini melewati jembatan yang ada rangka dinding besinya, maka akan mempunyai jarak / celah yang lebih longgar daripada kereta yang lainnya. Namun perlu diingat bahwa tulisan “Dilarang Keras Mengeluarkan Anggota Badan “ tetap harus diperhatikan.

Jika dilihat dari kedua foto terakhir di atas (dengan asumsi menggunakan jenis lokomotif dengan lebar yang relatif sama), maka akan terlihat jelas seberapa beda lebar sebenarnya bodi kereta wisata dengan kereta yang ada pada umumnya. Hal ini bisa diperhatikan dari posisi antara ujung dek lokomotif dengan ujung kereta atau tepatnya pada batas antara sambungan lokomotif dengan rangkaian kereta, dengan cara membandingkan lebar kedua jenis kereta tersebut terhadap lebarnya dek pada lokomotif.


Silahkan diperhatikan. Selamat mengamat-ngamati….. ;) ;)

1 comments:

My Life said...

Cerita yang bagus, menggugah hati saya untuk segera pulang ke Padang dan mencoba rute itu. Terima kasih. Salam.