Sunday, August 2, 2009

Padang Story, Part-3

Padang – Pariaman

Setelah memasuki hari kedua di Padang, di kala masih pagi buta kami sudah bersiap untuk berangkat melanjutkan perjalanan berikutnya, yaitu menaiki KA Sibinuang kelas ekonomi dengan jalur Padang – Pariaman (PP). Pukul 6 pagi kurang kami telah tiba di stasiun Padang. Matahari yang masih belum terbit membuat suasana sekitar stasiun yang masih agak gelap terasa sejuk dan segar. Mulailah kami mencari posisi masing-masing untuk mendapatkan foto-foto di sekitar stasiun Padang. Kereta api yang seharusnya berangkat tepat pukul 6.00 tampaknya agak sedikit terlambat, sekitar pukul 6.15 barulah Semboyan 40-41 dibunyikan. Kereta api-pun siap melaju perlahan-lahan meninggalkan stasiun Padang dari spur dua sambil membunyikan Semboyan 35-nya.

Stasiun pemberhentian pertama setelah kota Padang adalah stasiun Tabing. Cukup banyak juga penumpang yang naik ke kereta api dari stasiun ini, hal ini mungkin dikarenakan posisi dari stasiun tersebut yang sangat berdekatan dengan jalan utama yang menghubungkan antara bandara Minangkabau dengan kota Padang, sehingga akan memudahkan penumpang untuk melanjutkan perjalanan berikutnya dengan kereta api ke daerah lain ataupun sebaliknya turun dari kereta api bisa langsung naik angkot / bis menuju tempat lainnya. Bahkan sebagian besar dari posisi rel kereta api sepanjang lintas ini bersebelahan dengan jalan raya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar satu jam, KA Sibinuang berhenti sebentar di stasiun Duku. Stasiun ini sepertinya merupakan stasiun terdekat dari bandara Minangkabau. Foto pada bagian sebelah kiri yang dekat dengan jembatan kereta api adalah merupakan fly over yang sedang dalam proses permbangunan. Fly over ini tampaknya dibuat untuk jalan akses langsung dari bandara Minangkabau menuju ke kota Padang.


Pemberhentian kereta api berikutnya adalah stasiun Pasar Usang. Disini penumpang kereta api sepertinya tidak terlihat terlalu banyak. Setelah proses naik-turun penumpang KA Sibinuang langsung berangkat.





Di stasiun Lubuk Alung kereta api berhenti agak lama. Karena ini merupakan stasiun yang tergolong besar, penumpang yang turun-naik di stasiun ini juga cukup banyak. Selain itu Lubuk Alung adalah merupakan stasiun cabang, dimana tampak pada foto disamping terlihat sinyal mekanik yang menandakan semboyan 5 (telah menunjukkan jalur aman) yang mengarahkan kereta api bergerak ke arah kiri menuju Pariaman.
Sementara itu jalur yang sebelah kanan adalah jalur rel kereta api yang akan menuju stasiun Padang Padang. Nuansa perjalanan ke arah ini sebenarnya jauh lebih indah, ada rel bergerigi yang cukup panjang lintasannya karena jalur kereta api tersebut cenderung menanjak dan melintasi Lembah Anai. Namun sampai saat ini masih belum digunakan untuk kereta api reguler. Karena itu Semboyan 7 tetap digunakan untuk jalur yang menuju Padang Panjang ini.

Tak lama kemudian kereta api memasuki emplasemen stasiun Pauhkambar. Stasiun kecil yang sepertinya baru selesai di cat ini terlihat cukup bersih, namun sepi dari penumpang. Jika dilihat dari posisi orang berpijak yang akan naik kereta api, terlihat bahwa dulunya ada rel kereta api di jalur ini, tapi sudah hilang.




Tempat pemberhentian berikutnya sebelum sampai di Pariaman adalah stasiun Kurai Tadji. Pada stasiun ini terlihat cukup ramai dan banyak aktivitas warga di sekitarnya. Ternyata di belakang stasiun ini terdapat pasar tradisional. Banyaknya sampah yang berserakan di sekitar stasiun membuat stasiun ini jadi terlihat kotor. Namun disisi lain hal ini menunjukkan bahwa kegiatan masyarakat di daerah tersebut menjadi lebih hidup. Karena banyak penumpang yang turun di stasiun ini, maka kereta api mulai agak sepi di dalamnya hingga menuju Pariaman.

Akhirnya KA Sibinuang sampai di tujuan akhir yaitu stasiun Pariaman. Tanpa menunggu waktu lama setelah kereta api berhenti, lokomotif yang menarik rangkaian inipun langsung dilangsir untuk kembali ke stasiun Padang. Lokomotif BB30612 ini cukup unik karena terdapat lonceng di bagian depannya yang bisa dibunyikan dari dalam kabin masinis. Namun untuk ukuran tingkat keramaian yang cukup tinggi di sekitar stasiun ini, suara lonceng ini tampaknya tidak terlalu diperhatikan pada saat lokomotif tersebut akan melewati. Maka akhirnya Semboyan 35-pun “bicara”. Sepanjang perjalanan langsir di spur satu ini mulai dari ujung rel, Semboyan 35 tak henti-hentinya dibunyikan karena masih banyak warga yang lalu-lalang di atas rel tanpa menyadari kalau akan ada lokomotif yang mau lewat. Luar biasa suaranya…..

Setelah rangkaian KA Sibinuang siap tersedia pada spur 2, petugas PPKA-pun mengumumkan keberangkatan kereta api ini yang menuju ke Padang. Bantalan rel kereta api yang sebagian telah tertutupi oleh pasir pantai menunjukkan bahwa stasiun ini sangat dekat sekali dengan garis pantai. Cukup berjalan kaki hanya beberapa meter saja kita sudah sampai di pinggiran pantai. Sementara di sisi lain seberang stasiun atau tepatnya dari pintu masuk utama stasiun terdapat jalan raya dan pasar yang sangat ramai dikunjungi masyarakat sekitar. Dan sekitar pukul 8.50 berangkatlah KA Sibinuang menuju Padang.

Kemudian sekitar pukul 8.45 kereta api ini tiba di stasiun percabangan yaitu stasiun Lubuk Alung yang mempunyai empat jalur kereta api yang aktif. Disini KA Sibinuang berhenti lumayan lama (kurang lebih 15 menit) pada jalur empat. Karena selain jumlah penumpang yang turun & naik di stasiun ini cukup banyak, pada stasiun ini akan terjadi momen yang cukup langka. Dimana KA Sibinuang akan bersilang dengan KA Wisata Padang – Pariaman (persilangan kereta api di wilayah Sumatra Barat adalah suatu hal yang sangat jarang terjadi pada saat ini). Dengan sabar kamipun menanti untuk mengabadikan momen ini.

Akhirnya momen yang ditunggu-tunggupun tiba. Kereta Api Wisata Padang – Pariaman datang di stasiun Lubuk Alung tepat pukul 10.00 dengan ditarik oleh lokomotif BB20415 memasuki emplasemen spur tiga. Tak hanya untuk orang yang ingin berwisata, penumpang biasapun ternyata cukup banyak yang menantikan kedatangan kereta api ini untuk ikut dalam perjalanan menuju Pariaman. Setelah bersilang, tanpa menunggu waktu lama lagi KA Sibinuang yang kami naiki pun langsung bersiap untuk berangkat ke Padang.



Pukul 11.15 KA Sibinuang sudah datang kembali di stasiun Padang dan bersiap untuk memasuki spur lurus, atau tepatnya pada jalur dua. Tampak pada foto, berada di jalur paling kiri terdapat rangkaian yang sedang stabling, yaitu gerbong pengangkut batubara dan gerbong semen yang biasanya melintas di daerah Indarung.





Sekian cerita dari jalur kereta api Padang – Pariaman (PP)


Terima kasih.

1 comments:

Anonymous said...

naRancak bana artikel Part-3nyo. Kalo ka Padang, jan lupo basuo jo ambo yo...