Monday, September 15, 2008

Railway Bridge

Bagi yang sering bepergian dengan menggunakan alat transportasi kereta api, adalah suatu hal yang wajar jika sepanjang perjalanan kita melintasi jembatan, baik itu yang dibawahnya berupa sungai, jalan raya, ataupun yang lainnya. Nah, berikut ini ada beberapa bahasan tentang jembatan kereta api yang mungkin kita belum pernah mengetahui sebelumnya seperti fungsi dan jenis dari jembatan tersebut ;

1. Jika kita melihat ada pagar/dinding di dipinggir jembatan KA, maka sebenarnya Pagar Jembatan KA itu BUKAN di desain untuk menahan KA (kalau anjlog), tidak seperti orang ataupun kendaraan, KA DIANGGAP bisa jalan LURUS karena dipandu oleh REL nya, sehingga secara teoritis bisa dianggap aman.

2. Sebenarnya konstruksi rangka jembatan KA itu pada dasarnya cukup sederhana, yaitu sediakan DUA buah BALOK memanjang/menerus, letakkan persis dibawah REL masing2. Dalam bahasa Inggris disebut GIRDER, dalam bahasa PT. KA disebut RASUK. Ini bentuk/sistem paling hemat/efisien (dari segi bahan baja). Tapi yg seperti ini harus mempunyai ruang kolong sungai yg dalam, jadi si RASUK tadi punya tempat dibawah rel, tanpa takut di sapu air banjir (kalau terjadi banjir). Nah, yg mungkin dipasang beginian, kebanyakan di sungai JAWA BARAT, yg kolong2 sungainya dalam. Terlampir contoh gambar.


3. Pada daerah di JAWA TENGAH/TIMUR, yang medannya datar, kalau terjadi banjir, dan juga untuk lewat Pe
rahu, RASUK tadi TAK BISA DIPASANG DIBAWAH JEMBATAN, karena jarak air ke bawah rel sangat dekat, jadi TERPAKSA pakai DINDING di SAMPING LUAR REL. Buat orang awam tampaknya seperti PAGAR, padahal fungsinya bukan untuk itu. Type ini lebih boros bahan, karena selain perlu DINDING (diluar), juga perlu BALOK MELINTANG yg menghubungkan kedua dinding itu, posisinya dibawah REL. tergantung bentangnya, dindingnya ada yg tingginya pendek saja, ada yg tingginya 1-2 meteran (jadi mirip pagar terbuka tanpa atap), ada juga yg sampai ke atas dan dihubungkan dng. rangka lagi diatas, sehingga se-akan2 punya atap. Terlampir contoh gambar.



Ciri dari jembatan RASUK ialah TIDAK MEMAKAI BALOK MELINTANG (yg BESAR ukurannya) MELINTANG dibawah REL. Benar memang mutlak perlu struktur penghubung diantara dua Rasuk tadi, tapi ini bisa berupa struktur baja profil ukuran kecil, membentuk (dengan nama agak teknis) IKATAN REM dan / atau IKATAN ANGIN. Jadi cara menghitungnya : Rasuknya di desain untuk menahan LANGSUNG beban rel diatasnya, tidak lewat Balok melintang.

Desain astistik pada jembatan ini tidak semata2 artistik, tapi seperti bentuk PELENGKUNG. Ini bentuk yg paling baik/kuat untuk menahan beban. Perhatikan balok datar kalau dipasang melintang, pasti melendut kebawah karena gaya gravitasi bumi (belum dibabani, apalagi kalau nanti diberi beban). Jadi supaya masalah melendut ini dihilangkan, maka baloknya sengaja dibikin MELENGKUNG KE ATAS, prinsip dikenal dengan istilah ZEG (lawan lendut), sehinga ketika dibebani nanti (berat sendiri dan bebannya) diharapkan baloknya mendatar. Atau untuk bentang besar, sengaja dibikin melengkung keatas sebagai Jembatan Lengkung (Cisomang baru), diatas lengkungan ini dipasang rangka yg membuat lantai jembatan mendatar.

Pada jembatan Cirahong, di desain sebagai Double decker bridge, dua lantai, yg atas buat KA, yg bawah buat Jalan. Jika dilihat tampaknya DINDINGnya dibuat dari struktur baja ukuran kecil tapi rapat-rapat jaraknya. Jadi ini termasuk Dinding Rangka, karena pasti lebar antara dua dinding cukup besar untuk lewat mobil dan rel tadi terpaksa ditopang oleh balok melintang.




Sedikit pemahaman tentang Ikatan Angin:

Kalau KA lagi lewat dan ditiup angin (keras), maka KA akan cenderung terguling ke satu sisi, artinya satu roda menekan rel, satu rodal lain terangkat, jadi gak seimbang, satu sisi tertarik, satu sisi lain tertekan. Kemudian si angin (yg mendorong KA tadi) juga akan menekan sisi jembatan akibat KA yg terdorong melintang tadi duduk diatas rel yg ditumpu jembatan, jadi kedua sisi/dinding jembatan tadi harus bekerja sama supaya bebannya dibagi dua, lebih enteng.

Beban melintang ini (mengikuti sumbu sungai) yg ditahan oleh ikatan angin. Juga agar bentuk jembatan tetap kotak persegi panjang (90 derajat) tidak berubah bentuk menjadi jajaran genjang (atau belah ketupat), karena didorong angin dari samping yg tidak tegak lurus, maka ikatan angin ini yg menahan deformasi tadi.

Satuan kecepatan angin dihitung dari Kg/m2 tekanan angin ke dinding KA,beban ini dapat diubah menjadi momen guling (kgm atau tonm) atau ke gaya tekan (kg atau ton) dibebankan ke rel, ke rangka dinding, dan juga ke landasan jembatan

Rangka pada bagian atas jembatan itu disebut Ikatan Angin, (bentuknya ada yang model bersilang, diamond, dll) gunanya untuk menahan gaya angin (diandaikan KA sedang lewat dan ditiup angin melintang, jadi mirip layar) untuk menghubungkan ke dua sisi agar bekerja ber-sama2.

Ikatan angin juga bisa di letakkan pada dua posisi, yaitu pada bagian atas dan bawah. Namun pada jembatan tanpa atap, ikatan angin cuma berada pada bagian bawah.



Kenapa di setiap jembatan selalu menggunakan bantalan kayu ?

Selaian karena lebih ringan, berat bantalan kayu hanya sepertiga berat bantalan beton. Jadi kasihan kan si jembatan kalau harus menggendong beban mati lebih berat terus-terusan seumur hidup (kalau pakai bantalan beton).





Sumber:
Diambil dari postingan milis keretapi@yahoogroups.com khususnya tulisan pak Santo Tjokro.

2 comments:

Gada Bina Usaha said...

Bagus Pak...kita share ya..mampir di blog Bantalan Jembatan

capung-liar said...

Artikelnya sangat menarik nih.
Jadi tambah tau tentang jembatan kereta..
capung-liar.blogspot.com